bersama kita di sudut semesta
menghampar kisah
mencerna rasa
bertukar abjad
tanpa cemas
pada cuaca hidup
mungkin karena kita
pengembara belukar rasa
penjelajah ilalang hati
serupa
saat ber-sisi-an
kita bahagia di jajaran huruf
sinar mata kita
sempurnakan kilau rindu
hingga ke jurang dada
lagut-kan jiwa
Pada daur hari
kau kitari hati-ku
apung-apung-kan hasrat
dengan akar, batang, daun kasih-mu
jadi-kan pohon cinta
aku di antara lembar harap
di antara mekar tak berdaya
ingin hadirkan-mu utuh
dalam fajar dan malam-ku
jadi belahan jiwa
di rinai-rinai empat musim
kini aku berkutat
pada pusaran mantra suci
untuk sudi kau ajak aku
berkelana dalam hayat
sudi kau katakan
kita akan jinjing
keranjang hati yang sama
hingga semesta memudar
Minggu, 28 Juni 2009
Kamis, 25 Juni 2009
dewi isthar
jumpa pertama
aku tahu
dewi isthar di sisi-ku
saat memandang-mu
getar-mu pasung hati
apung-apung-kan logika
jumpa kedua
kau udara damai
rebak-kan nyanyian bunga
tabur warna-warni rasa
rekah-kan kelopak mimpi
dewi isthar nyanyi-kan-ku
lagu cinta
jumpa ketiga
kau matahari
bagi ladang jiwa
tumbuh subur-kan cinta
dewi isthar dekap-ku erat
kokoh-kan rasa
jumpa keseribu
bilakah ?
tapi ku pasti-kan
dewi isthar
iringi hari-ku
burai seribu cinta
karena dia
sang dewi cinta
aku tahu
dewi isthar di sisi-ku
saat memandang-mu
getar-mu pasung hati
apung-apung-kan logika
jumpa kedua
kau udara damai
rebak-kan nyanyian bunga
tabur warna-warni rasa
rekah-kan kelopak mimpi
dewi isthar nyanyi-kan-ku
lagu cinta
jumpa ketiga
kau matahari
bagi ladang jiwa
tumbuh subur-kan cinta
dewi isthar dekap-ku erat
kokoh-kan rasa
jumpa keseribu
bilakah ?
tapi ku pasti-kan
dewi isthar
iringi hari-ku
burai seribu cinta
karena dia
sang dewi cinta
Senin, 22 Juni 2009
Ode buat Istri
Kekasih-ku,
maafkan aku
hanya ada sisa sabar bagi-mu
karena baju sabar ku- kenakan bagi mereka
agar aku tampak bijaksana
Ibu -anak-anak-ku
maafkan aku,
hanya ada sisa manis bagi-mu
karena manis-ku banyak di kecap mereka
agar aku tampak menyenangkan
Malaikat tak bersayap-ku
maafkan aku,
hanya ada sisa energi bagi-mu
karena energi ku- burai bagi mereka
agar aku kokoh meraih mimpi
Perempuan tangguh-ku
maafkan aku,
untuk umpatan dan makian-ku
bisa jadi itu bukan buat-mu
tapi.., entah mengapa
aku muntahkan pada-mu
Permaisuri istana-ku
maafkan aku,
bila tak ku perdulikan sakit-mu
tak ku perdulikan rasa di hari-mu
aku sibuk menjaga rasa mereka
Dewi-ku,
maafkan aku,
bila sunyi selalu memeluk-mu
bila kau harus kokoh
seperti karang samudera
untuk ego di kepala-ku
anggap diri-mu
tak penting untuk di dengar-kan
tak penting untuk di ajak berbagi
Cinta-ku
maafkan aku,
bila mencintai-ku
seperti memeluk landak
karena bisa jadi
tak lagi aku mengenal diri-ku
Istri-ku,
terima kasih seribu
untuk semua-mu pada-ku
hingga aku jadi luar biasa
bagi dunia aku dan mereka
Masih-kah kau cintai aku ?
maafkan aku
hanya ada sisa sabar bagi-mu
karena baju sabar ku- kenakan bagi mereka
agar aku tampak bijaksana
Ibu -anak-anak-ku
maafkan aku,
hanya ada sisa manis bagi-mu
karena manis-ku banyak di kecap mereka
agar aku tampak menyenangkan
Malaikat tak bersayap-ku
maafkan aku,
hanya ada sisa energi bagi-mu
karena energi ku- burai bagi mereka
agar aku kokoh meraih mimpi
Perempuan tangguh-ku
maafkan aku,
untuk umpatan dan makian-ku
bisa jadi itu bukan buat-mu
tapi.., entah mengapa
aku muntahkan pada-mu
Permaisuri istana-ku
maafkan aku,
bila tak ku perdulikan sakit-mu
tak ku perdulikan rasa di hari-mu
aku sibuk menjaga rasa mereka
Dewi-ku,
maafkan aku,
bila sunyi selalu memeluk-mu
bila kau harus kokoh
seperti karang samudera
untuk ego di kepala-ku
anggap diri-mu
tak penting untuk di dengar-kan
tak penting untuk di ajak berbagi
Cinta-ku
maafkan aku,
bila mencintai-ku
seperti memeluk landak
karena bisa jadi
tak lagi aku mengenal diri-ku
Istri-ku,
terima kasih seribu
untuk semua-mu pada-ku
hingga aku jadi luar biasa
bagi dunia aku dan mereka
Masih-kah kau cintai aku ?
Jumat, 12 Juni 2009
Di rasa-mu
Duhai Kekasih,
Dada-ku sesak
Terkepung asap rindu
Bara asmara di dada
Pijar-pijar-kan rasa-ku
Hingga semua-mu pada-ku
Tentang senyum indah-mu di bibir-ku
Jendela jiwa-mu di kerling mata-ku
Kisah-mu di ingatan-ku
Tentang lelah-mu mengejar matahari
Tentang dusta hari pada hati-mu
Duhai Kekasih,
Sesaat saja dekati aku
Belai rasa-ku di hangat-mu
Lindap-kan rasa-mu di rasa-ku
Katakan kau ingin-kan aku
Duhai Kekasih,
Usah bisu dalam abjad
Usah pasung rasa-mu
Biar tak sepi di rasa-ku
Satu kata saja
Adakah semua-ku pada-mu
Dada-ku sesak
Terkepung asap rindu
Bara asmara di dada
Pijar-pijar-kan rasa-ku
Hingga semua-mu pada-ku
Tentang senyum indah-mu di bibir-ku
Jendela jiwa-mu di kerling mata-ku
Kisah-mu di ingatan-ku
Tentang lelah-mu mengejar matahari
Tentang dusta hari pada hati-mu
Duhai Kekasih,
Sesaat saja dekati aku
Belai rasa-ku di hangat-mu
Lindap-kan rasa-mu di rasa-ku
Katakan kau ingin-kan aku
Duhai Kekasih,
Usah bisu dalam abjad
Usah pasung rasa-mu
Biar tak sepi di rasa-ku
Satu kata saja
Adakah semua-ku pada-mu
Senin, 01 Juni 2009
Jendela-ku
Aku punya jendela
Terbuat dari
Kekuatan jiwa
Kebeningan hati
Berbingkai cinta
Jendela-ku
Terbangkan mata-ku
Ke cakrawala cantik
Bila kisah bumi..,
Lunglai-kan matahari
Hitam-kan langit
Perih-kan udara
Riuh-kan angin
Abu-abu-kan rasa
Di jendela-ku..,
Semua cantik merona
Senyum di matahari-ku
Biru di langit-ku
Kasih di udara-ku
Damai di angin-ku
Jingga di rasa-ku
Di jendela-ku
Pelangi tak pernah sepi
Terbuat dari
Kekuatan jiwa
Kebeningan hati
Berbingkai cinta
Jendela-ku
Terbangkan mata-ku
Ke cakrawala cantik
Bila kisah bumi..,
Lunglai-kan matahari
Hitam-kan langit
Perih-kan udara
Riuh-kan angin
Abu-abu-kan rasa
Di jendela-ku..,
Semua cantik merona
Senyum di matahari-ku
Biru di langit-ku
Kasih di udara-ku
Damai di angin-ku
Jingga di rasa-ku
Di jendela-ku
Pelangi tak pernah sepi
Langganan:
Postingan (Atom)